Saat Virus Corona COVID-19 terus menyebar, sekolah-sekolah di seluruh dunia bergeser ke pembelajaran daring dalam upaya untuk memperlambat penyebaran penyakit tersebut.

Para anggota dari jaringan pembelajaran profesional ISTE telah bekerja keras memperkenalkan praktik-praktik penting untuk pembelajaran daring yang berhasil. Berikut adalah beberapa ide terbaik dari para pendidik di seluruh dunia, banyak dari antara mereka yang telah mengajar selama penutupan sekolah akibat Virus Corona.

PERSIAPAN DAN PRAKTIK

1. Pastikan keadilan digital.

Keadilan adalah rintangan terbesar dalam mempersiapkan pembelajaran daring, dan adalah hal pertama yang harus Anda pikirkan. Jika wilayah Anda bukan 1:1 (tidak semua orang memiliki perangkat yang dibutuhkan - Red.) dan tidak memiliki perangkat untuk mengirim ke rumah kepada semua orang, lakukan survei kepada guru-guru dan keluarga-keluarga terlebih dahulu untuk mencari tahu siapa yang akan memerlukan perangkat-perangkat dan bandwith.

Jenna Conan, spesialis integrasi teknologi di All Saints Episcopal School di Fort Worth, Texas, menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga tidak memiliki satu komputer tiap orang. Selama sekolah ditutup, orangtua mungkin juga bekerja dari rumah, yang berarti beberapa orang bisa berebut untuk satu atau dua komputer. Karenanya, pastikan bahwa semua aplikasi daring bisa digunakan di perangkat HP jika laptop tidak tersedia.

Bagi para guru dan murid yang tidak memiliki Wi-Fi di rumah, pejabat wilayah harus menemukan cara untuk membeli atau menyewa Wi-Fi hotspots dan kemudian memiliki sebuah rencana untuk mendistribusikan perangkat dan juga hotspot. Jika Anda mendapat peringatan sebelumnya bahwa penutupan akan dilakukan sebentar lagi, pejabat wilayah bisa mengirim perangkat dan hotspot ke rumah kepada murid-murid sebelum penutupan (sekolah) terjadi. Jika penutupan terjadi secara mendadak, rencanakan waktu dan lokasi penjemputan, dan atur pengiriman perangkat dan hotspot kepada mereka yang tidak bisa mengambilnya.

Ingatlah bahwa murid-murid yang memiliki rencana pendidikan secara individu (IEPs) perlu mendapatkan akses pada akomodasi khusus mereka selama penutupan (sekolah), termasuk akses video ke pendukung dan login untuk aplikasi.

2. Praktik.

Sekolah-sekolah yang secara teratur memiliki hari-hari belajar digital – dan telah melakukan pembelajaran melalui konektivitas-rumah dan perangkat – sudah memimpin, kata Michael Flood, pemimpin ISTE Digital Equity PLN. Akan tetapi, jika sekolah Anda belum meletakkan dasarnya, anggaplah ini sebagai sebuah peluang.

Guru-guru yang belum menggunakan sistem manajemen pembelajaran secara teratur, perlu untuk memahami dan melakukannya sekarang sehingga tidak akan ada interupsi dalam komunikasi saat terjadi penutupan secara tiba-tiba. Guru-guru harus melatih diri mereka dan murid-murid mereka tentang aplikasi dan peralatan teknologi yang mungkin perlu mereka gunakan dalam peristiwa penutupan (sekolah). Praktikkan di ruang kelas kemudian minta murid-murid pulang untuk mencoba menggunakan peralatan itu dari rumah, kata Sandra Chow, ketua inovasi dan pembelajaran digital di Keystone Academy di Beijing.

Chow, yang telah mengajar secara daring sejak penutupan sekolahnya akibat Virus Corona pada awal Februari, berkata bahwa pendidik tidak akan menyesal menggunakan waktu untuk hal ini.

“Tidak ada satu pun dari pembelajaran ini yang akan sia-sia ke depannya,” katanya, “karena banyak keterampilan yang dipelajari selama periode pembelajaran daring yang akan sama bergunanya seperti dalam ruang kelas biasa.”

3. Berikan ekspektasi yang jelas kepada staf dan para orangtua.

Selama penutupan, komunikasi antara petugas admin, staff, orangtua, dan murid adalah lebih penting daripada sebelum-sebelumnya.

“Dalam sebuah lingkungan daring, kekhawatiran setiap orang itu tinggi sehingga saluran-saluran komunikasi perlu dilakukan dengan sering, jelas, dan ringkas,” kata Chow.

Untuk komunikasi yang lengkap, persiapkan FAQ (pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan - Red.) yang menggambarkan semua rincian tentang bagaimana sekolah akan dilangsungkan selama penutupan sehingga staf dan orangtua memiliki pemahaman yang sama.

David Lowe, oran tua dan sebelumnya adalah asisten kepala sekolah yang wilayah anak-anaknya di negara bagian Washington beralih ke pembelajaran dari jauh pada 9 Maret, merekomendasikan FAQ memasukkan informasi tentang di mana mendapatkan tugas setiap hari; sebuah daftar mengenai tempat-tempat dan peralatan yang akan dibutuhkan murid-murid, cara untuk log in dan apa yang harus dilakukan jika teknologi tidak berfungsi; dan yang terakhir, ekspektasi dari orangtua. “Ada banyak informasi yang disampaikan dan orangtua bekerja keras untuk memastikan bahwa mereka benar-benar tahu apa yang seharusnya mereka lakukan sebaik-baiknya untuk mendukung murid-murid mereka.”

Selain memosting dan mendistribusikan FAQ, sekolah-sekolah seharusnya membuat komunitas pesan teks yang luas untuk dengan cepat berkomunikasi dan kemudian memberi saran kepada orang-orang ke mana untuk mendapatkan pesan-pesan tindak-lanjut via email atau di website Anda.

Selanjutnya, persiapkan panduan langkah demi langkah tentang cara untuk mengakses peralatan dan kurikulum pembelajaran daring. Pastikan Anda menghadirkan informasi ini dalam berbagai format termasuk video dan teks dan meliputi screenshot dan tutotial rekaman digital.

Mintalah keluarga-keluarga untuk memastikan semua murid – terutama pelajar-pelajar yang paling kecil – tahu cara untuk log in ke aplikasi dan tahu kata sandi mereka. Guru-guru perlu tahu cara untuk menghitung kehadiran. Sediakan pendukung teknologi tambahan dan pastikan orangtua dan guru tahu cara untuk meminta bantuan.

4. Sediakan waktu untuk melakukan rencana.

Jika penutupan terjadi sebelum staf Anda siap untuk mengajar daring, investasikan beberapa waktu – bahkan jika itu hanya satu atau dua hari – untuk bersiap-siap sebelum memberikan pembelajaran daring dengan murid-murid. Penundaan singkat ketika memulai pelajaran daring akan berakibat jangka panjang. Di wilayah Washington yang dihadiri tiga anak Lowe, staf menggunakan waktu untuk bersiap-siap selama penutupan yang akan terjadi.

“Wilayah itu membutuhkan waktu sehari penuh untuk semua tim bersama-sama membuat sebuah rencana untuk pembelajaran daring,” katanya. “Itu benar-benar langkah yang cerdas.”

Tim dibagi-bagi dan mengerjakan semua hal berkaitan dengan isu-isu, seperti mengadakan pertemuan-pertemuan Zoom, sampai pertemuan-pertemuan yang bersifat pelajaran, seperti model pendukung rumah yang berbeda, dan kemudian melaporkan ke kelompok yang lebih besar. Ketika distrik tutup dua hari kemudian, guru-guru memiliki rencana dua hari sebelum secara penuh melakukan pembelajaran daring dengan murid-murid. Rencana hari-hari dari tim dan individu membantu pelaksanaannya berjalan lancar.

Bahkan, jika penutupan terjadi secara tiba-tiba dan tidak memberi waktu untuk membuat rencana sebelum sekolah ditutup, adalah masih bijaksana untuk membuat rencana sebelum memulai pelajaran daring.

5. Isilah tas Anda.

Pastikanlah Anda telah mengakses semua yang Anda perlukan dari rumah seandainya Anda tidak bisa kembali ke sekolah atau membawa pulang komputer sekolah Anda dan memindahkah catatan-catatan Anda ke dalam cloud.

IMPLEMENTASI

6. Buatlah jadwal harian.

Ekspektasi-ekspektasi haruslah jelas tentang kapan guru-guru dan murid-murid perlu untuk log in. Seharian penuh di depan layar adalah berlebihan bagi anak-anak dan guru-guru, terutama bagi keluarga-keluarga yang mungkin memakai satu perangkat bersama-sama. Banyak sekolah yang memilih dua waktu untuk masuk–masuk ke pertemuan pagi hari dan sore hari – kemudian mengizinkan keluarga untuk dengan fleksibel mengatur jadwal sekolah di rumah.

Sekolah-sekolah lain mengatur ulang jadwal sekolahnya, dengan membuat satu hari sekolah menjadi dua hari. Murid-murid menghadiri tiga kelas pada pagi hari dan pada sore hari bekerja mandiri dan berinteraksi dengan guru-guru itu selama “jam kerja.” Hari berikutnya, mereka menghadiri sisa kelas daring mereka pada pagi hari dan kemudian berinteraksi pada jam kerja dengan guru-guru itu sore harinya.

Terkadang bisa sulit untuk mengantisipasi rintangan-rintangan yang mungkin saja dihadapi murid-murid saat mengarungi wilayah baru ini. Nadine Bailey, guru petugas perpustakaan dan ahli integrasi teknologi di Western Academy of Beijing, menyarankan untuk menentukan satu murid per tingkatan dan memonitor jalur mereka “yang diharapkan” di sepanjang hari dari alat ke alat untuk memastikan semuanya bekerja seperti yang seharusnya. Jika tidak, bersikaplah fleksibel dan buatlah perubahan di tengah jalan.

Bisa menjadi hal yang lebih rumit dengan mengurus kelas-kelas khusus seperti Olah Raga, robotik, atau seni. Adam Hill adalah penulis blog dan guru di Victoria Shanghai Academy in Hong Kong, yang telah tutup sejak 22 Januari dan mulai menawarkan pembelajaran dari jauh pada 5 Februari.

Sekolah Hill mendapati bahwa murid-murid kesulitan untuk menyediakan waktu setiap hari untuk pelajaran khusus maka mereka memutuskan untuk mengalokasikan satu hari setiap minggu untuk semua kegiatan-kegiatan pilihan.

7. Provide robust learning. Sediakan pembelajaran yang sehat dan tegap.

Di tengah keadaan yang ekstrem seperti penutupan mendadak, sangat menggoda bagi guru-guru untuk mengunggah lembaran kerja yang bisa diisi dan dikumpulkan oleh murid-murid. Akan tetapi, yang didapatkan secara daring selama penutupan – terutama selama penutupan yang diperpanjang – seharusnya paling tidak sama menariknya dengan pengalaman di ruang kelas ( jika tidak lebih) atau murid-murid akan menderita.

Ahli pendidikan Alison Yang mengembangkan sebuah panduan pembelajaran daring, yang menekankan bahwa pembelajaran daring seharusnya tidak pernah menjadi alasan untuk memberikan pekerjaan yang banyak, melainkan berkonsentrasi pada tujuan pembelajaran yang menarik. Bailey, guru-petugas perpustakaan Beijing, menyesuaikan panduan Yang yaitu untuk membantu orang tua memahami tujuan-tujuannya.

Empat hal prinsip penting yang direkomendasi ISTE adalah:

- Bagi pembelajaran ke bagian-bagian yang lebih kecil.

- Jelas tentang ekspektasi untuk partisipasi daring.

- Berikan umpan balik segera (atau setidaknya sering) melalui pemeriksaan pengetahuan daring, komen di dokumen kerja sama, dan bercakap-cakap untuk membuat murid-murid tetap termotivasi dan bergerak maju.

- Masukkan pertemuan-pertemuan virtual, percakapan atau tutorial video untuk menjadi koneksi manusia.

Tim kepemimpinan Chow di Beijing berjumpa secara virtual untuk membuat rencana pembelajaran daring, yang meliputi pelatihan untuk pembuatan video dan alat-alat lainnya, ilmu mendidik pembelajaran daring dan juga pelatihan sosial-emosional.

Dia menekankan bahwa komunitas akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Berikan tujuan yang dapat diatur dan dicapai untuk dikerjakan setiap minggu, sering mendengarkan umpan balik dan berkomunikasi, katanya.

8. Buatlah pembelajaran mandiri.

Ingatlah bahwa orangtua bisa saja bekerja di atau dari rumah dan tidak bisa banyak membantu. Adalah penting untuk membuat pembelajaran yang tidak membutuhkan banyak bantuan dari orangtua yang mungkin saja sudah kewalahan.

Lowe, orangtua di negara bagian Washington, menyampaikan ekspektasi tentang dukungan dari orangtua mungkin adalah isu terpenting bagi dia dan istrinya. Memberikan panduan bagi orangtua tentang cara mereka bisa mendukung anak-anak mereka dalam model pembelajaran daring juga akan bermanfaat.

“Ini terasa sama dengan homeschooling saat ini,” kata Lowe.  “Tantangan terbesar adalah orangtua mengawasi apa yang anak-anak mereka seharusnya kerjakan dan kapan.”

Lowe mengatakan bahwa keluarganya beruntung. Dia adalah seorang konsultan yang bisa bekerja dari rumah dan istrinya adalah seorang guru, sehingga mereka bisa ada di tempat untuk memberikan bantuan. Tidak semua orangtua bisa mengatasi semudah itu, terutama mereka yang memiliki anak-anak kecil yang tidak bisa bekerja dari rumah.

“Salah satu hal terbaik yang telah dilakukan sekolah kami untuk menolong orang tua adalah mempersingkat informasi dengan membuat satu tempat untuk semua tugas, jadwal, dan ekspektasi,” katanya. “Semakin dekat Anda bisa membuat sumber-sumber ini ke daftar periksanya, maka itu akan lebih baik.”

9. Bicarakan efek negatifnya.

Periksalah murid-murid atau rekan kerja, terutama mereka yang kurang nyaman dengan peralatan digital untuk melihat apakah mereka membutuhkan bantuan atau seseorang untuk diajak bicara. Dengan terisolasi di rumah, bisa jadi mengisolasi dan memperburuk rasa takut dalam menghadapi krisis dunia. Menyediakan waktu untuk memeriksa perasaan-perasaan khawatir sama pentingnya dengan memeriksa hal-hal akdemis.

Dalam panduannya untuk pembelajaran daring, Rushton Hurley, seorang anggota ISTE dan pendiri Next Vista for Learning, membagikan sebuah cerita dari guru-guru ekspatriat di Wuhan, China, episentrum virus Corona. Setelah berminggu-minggu sebagian besar terkurung di apartemen mereka, guru-guru mulai saling memanggil dan membiarkan sambungan terbuka, bahkan jika mereka tidak sedang berbicara. Mereka hanya ingin penghiburan karena bisa berbicara dan ada seseorang yang mendengar suara mereka. Jika penutupan berlangsung untuk waktu yang lama, Anda akan merindukan murid-murid Anda, dan mereka akan merindukan Anda dan satu sama lain, kata Hurley.

Sementara kelihatannya menyenangkan bekerja dari rumah, bisa jadi menantang untuk menjalankan jadwal secara teratur. Beberapa hal yang bisa membantu meliputi:

- Lakukan rehat secara teratur.

- Sediakan waktu untuk berolahraga.

- Tetap pada jam tidur yang teratur.

- Batasi gangguan sebisa mungkin (matikan notifikasi media sosial, misalnya.)

- Tentukan target-target harian dan mingguan.

- Sediakan waktu untuk bersosialisasi, bahkan jika secara virtual.

10. Pilih alat-alat yang tepat dan tetap memakai itu.

Beragamnya peralatan teknologi, banyak yang gratis, tersedia untuk membantu. Jason Reagin, konsultan edtech dan guru di Incheon, South Korea, telah mengumpulkan aplikasi-aplikasi Wakelet yang menawarkan upgrade gratis selama terjadi krisis dunia.

Dengan adanya begitu banyak di luar sana, bisa jadi menggoda untuk mencoba menggunakan semuanya. Akan tetapi, batasi jumlah peralatan, aplikasi, dan platform sehingga murid-murid dan orangtua mereka tidak kewalahan.

Mungkin akan sedikit lebih sulit bagi murid-murid untuk mengikuti tugas ruang kelas ketika Anda tidak di sana berhadapan secara langsung. Beberapa ide dari Arizona State University untuk membantu anak-anak berfokus adalah dengan memakai jenis huruf dan warna yang berbeda-beda di layar untuk membantu pelajar membedakan ide-ide yang penting. Usahakan untuk membuat perintahnya singkat, sederhana, dan jelas. Pertimbangkan untuk membuat perintah dalam bentuk video daripada tulisan.

Videoconferencing akan membawa Anda dan murid-murid Anda ke rumah satu sama lain jadi, adalah penting untuk memerhatikan privasi. Beberapa program membuat pengguna mengaburkan latar belakang Anda. Berpakaian seperti datang ke sekolah dan harapkan murid-murid melakukan hal yang sama.

Pembelajaran daring juga menghadirkan kesempatan besar untuk meninjau etiket digital dan melekatkan warga daring ke dalam kegiatan kerja sama daring.

Prioritaskan pembelajaran murid dengan Pembelajaran Dahulu, Teknologi Kemudian. Pelajarilah bukunya! (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: