Sangat sulit untuk menghindari hiperbola ketika berbicara tentang krisis COVID-19. Belum pernah terjadi sebelumnya! Mengubah dunia! Hidup tidak akan sama lagi! Kita sudah mendengar semuanya dan akan terus mendengarnya. Diperkirakan sekitar separuh populasi dunia mengalami pembatasan jenis apa pun yang disebabkan oleh virus. Selain ketakutan dan kesedihan yang secara langsung disebabkan oleh penyakit ini, lockdown dan karantina membawa kesulitan yang nyata, baik dari perpisahan yang dipaksakan (dari teman yang dibutuhkan, misalnya) atau kedekatan yang dipaksakan (seperti dalam kasus pelecehan rumah tangga).

Ini benar-benar baru. Bukan karena pandemi adalah hal yang baru. Memang, bencana pandemi influenza 1918-1919 mengecilkan krisis COVID-19. Game changer telah menjadi teknologi yang membawa segalanya dalam jangkauan beberapa byte. Kita sekarang secara global sadar tidak seperti sebelumnya. Akan tetapi, itu hanya menandai masalah dari isolasi bagi begitu banyak orang. Perasaan terisolasi itulah yang tidak asing bagi mereka yang menderita penyakit mental.

Jika lockdown adalah sesuatu yang sulit bagi Anda secara pribadi, maka mungkin salah satu sifat penebusan adalah berupa simpati yang lebih besar. Seorang psikolog mengamati bagaimana lockdown global menempatkan jutaan orang ke dalam beberapa realitas sehari-hari para penyandang cacat fisik, dengan harapan menghasilkan pemahaman yang lebih besar. Dan, pada cacat fisik, kita juga bisa menambahkan mereka yang bergumul dengan penyakit mental.

Lebih Dalam Daripada 'Depresi'

Itu dimulai sebagai cara menemukan kata-kata saya sendiri, atas saran seorang psikolog, dan jelas tidak dimaksudkan untuk publikasi. Tetapi pada akhirnya, itulah yang terjadi: itu berkembang menjadi sebuah buku tentang melakukan pelayanan sambil mengelola depresi. Anehnya (karena saya baru menemukan ini baru-baru saja), tampaknya saya memproses kehidupan dan apa yang sebenarnya saya pikirkan paling baik adalah dengan melakukannya di atas kertas (atau layar).

Akan tetapi, apa yang Anda lakukan jika tidak ada kata-kata? Kata-kata telah menjadi kekhasan saya selama bertahun-tahun, sebagai orang yang mencintai sastra dan yang berkhotbah dan melatih pengkhotbah. Akan tetapi, sejak diagnosa PTSD (post-traumatic stress disorder) saya pada tahun 2005 (sekembalinya kami ke London dari mengajar selama beberapa tahun di seminari kecil Uganda), dan juga pada pengobatan sejak itu, aspek yang paling menakutkan adalah ketidakmampuan untuk mengartikulasikan apa yang terjadi. Ini sangat mengisolasi. Terutama dari orang-orang terdekat saya.

Kata-kata yang umumnya dikaitkan dengan depresi (termasuk kata-kata yang tidak berguna dan menipu itu sendiri) terasa terlalu lemah atau remeh. "Oh, kalau hanya itu yang terjadi, maka tidurlah lebih awal! Atau cuti beberapa hari? Anda akan baik-baik saja dalam sekejap!" "Solusi" tidak bijaksana itu menggema di benak saya. Atau, bahkan lebih buruk, kata-kata hampa dari teman yang bermaksud baik dan tahu segalanya. "Tuhan akan menyertai kamu dalam semuanya. Berdoalah dan kamu akan merasa hebat kembali di pagi hari. Atau masa kamu tidak percaya janji-Nya?"

Terisolasi di Dalam Gua

Tuhan selalu bersama saya dalam keadaan ini, tentu saja. Akan tetapi, keyakinan itu terguncang dan babak belur, terutama di waktu-waktu yang lebih gelap, atau lebih tepatnya, berbulan-bulan. Ini adalah sesuatu yang harusnya dipegang teguh meskipun ada pengalaman di dalam gua yang meneriakkan bahwa itu benar-benar mustahil untuk melakukannya. Bicara tentang belajar dengan cara yang sulit bagaimana hidup dengan iman, bukan dengan melihat (atau arti lainnya, dalam hal ini).

Dan, dia adalah Allah yang penuh kejutan. Karena buku gua saya yang paling penting sama sekali bukan Kristen, tetapi saya agak ragu Dia membawa saya ke sana. Karya William Styron, Darkness Visible, memberi saya terobosan. Sebab, di sini ada seorang penulis lelaki (di tingkat yang jauh lebih tinggi daripada yang bisa saya impikan) yang mengartikulasikan hal yang tidak dapat dijelaskan. Pemenang Pulitzer dan L├ęgion d'Honneur dari Prancis, Styron tetap dilumpuhkan oleh depresi di akhir hidupnya, membuatnya hampir bunuh diri. Wawasan yang muncul bagaikan sambaran kilat adalah pengakuannya akan perlunya metafora. Hampir segera setelah mencerna buku itu (pada satu sore, bagaikan air berkilauan bagi jiwa yang kering), saya mendapatkan metafora gua. Saya menulis ini untuk menjelaskan mengapa itu menjadi sangat jelas dengan cara yang kuat:

Gua lebih misterius, lembap, dan menakutkan dalam kesuraman alaminya. Gua tampaknya memanjang tanpa akhir ke beberapa labirin yang luas. Tidak heran, gua adalah tempat untuk mimpi buruk dan cerita-cerita horor. Akan tetapi, ada alasan yang lebih dalam dengan menggunakan penggambarannya. Gua dapat berfungsi sebagai ruang gema yang luas. Begitu terperangkap di dalam, satu-satunya suara yang bisa kita dengar dengan jelas adalah suara kita sendiri. (When Darkness Seems My Closest Friend, 41)

Ditemani di Dalam Gua

Begitu saya mulai merenungkan metafora-metafora tentang Dia dan lainnya, saya dikejutkan oleh sesuatu yang begitu jelas dan sebelumnya tidak terlihat oleh saya. Alkitab penuh dengan metafora! Bahkan, beberapa hampir identik dengan yang paling saya kenal, terutama dalam Mazmur: perasaan lemah dan hancur total (Mazmur 38:5-8), perasaan gagal dan tenggelam (Mazmur 42:7), ketidakmampuan untuk berpikir apa pun kecuali melarikan diri dari ketakutan dan kecemasan yang terus ada (Mazmur 55:4-8).

Yang paling berani, Pemazmur memasukkan dalam Mazmur 88 seruan hampir putus asa dan kesepian tidak seperti yang lain dalam semua Kitab Suci (dan, saya menduga, tidak seperti teks suci agama lain). Allah mengizinkan ini ada di sana. Bagaimana lagi itu bisa dimasukkan? Tidak seorang pun yang menjalankan agamanya dengan cerdas, rapi, dan konvensional yang bisa mentolerir penistaan yang begitu nyata. Mungkinkah Allah yang sama yang sangat sering saya putus asa terhadap-Nya di dalam gua saya, sebenarnya telah menyediakan liturgi keputusasaan untuk memungkinkan kita menyuarakan hal itu kepada-Nya dalam doa? Dengan kata lain, Mazmur 88 adalah ekspresi atau penggambaran tentang permohonan ayah yang putus asa yang luar biasa paradoks itu kepada Tuhan Yesus: "Aku percaya; tolonglah ketidakpercayaanku!" (Markus 9:24).

Saya pikir, adalah jelas bahwa kehadiran Mazmur 88 dalam Alkitab adalah faktor kunci dalam kepercayaan saya yang bangkit kembali bahwa Allah tidak secara sosial menjauhkan diri dari saya atau dunia-Nya yang rusak. Hal itu dan kekacauan psikologis yang disebabkan misi Yesus, memuncak di Getsemani. Sekarang, saya tentu saja tidak menyamakan penyakit saya (karena itu tentu saja penyakit, dan bukan karena kurangnya kepercayaan) dengan kengerian yang Dia alami. Jauh dari itu. Namun, itu memang berarti bahwa setelah menderita jauh lebih buruk, Dia tahu penderitaan saya. Secara intim. Imam besar kita dapat benar-benar bersimpati dengan kelemahan kita, pencobaan kita, penderitaan kita (Ibrani 4:15). Terlebih lagi, tidak ada yang membuat Dia batal atau takut. Dia tidak malu menyebut kita saudara dan saudari (Ibrani 2:11). Itu sangat penting bagi saya. Saya tidak sendirian. Kita tidak sendirian. Anda tidak sendirian.

Sahabat dalam Penderitaan

Namun, bagaimana dengan orang lain? Bagaimana dengan kelompok, pertemuan gereja, konferensi, dan yang lainnya? Itu masalah yang sama sekali berbeda. Mereka terkadang bisa sangat rumit. Satu setengah dekade terakhir tentu saja menghadapi kesulitan mereka, paling tidak karena bekerja di sebuah gereja besar di pusat kota London dan sekarang sebuah pelayanan yang mengumpulkan kelompok-kelompok besar dan kecil untuk pelatihan. Saat-saat ketika orang-orang berkeliling untuk minum kopi dan berbincang-bincang adalah yang terburuk! Mereka memiliki efek buruk yang memperparah rasa mengalami isolasi.

Pasca-lockdown, untuk keluar dan pergi, untuk menemui keluarga yang lebih besar, untuk menghabiskan waktu yang tidak tergesa-gesa dengan teman-teman tepercaya, saya benar-benar mendambakan kesenangan sederhana ini -- hal-hal itulah yang diimpikan! Tetapi kelompok, kecil atau besar, tidak sama dengan itu sama sekali. Karena hal yang sangat dibutuhkan oleh mereka yang memiliki pergumulan psikologis -- meskipun, tentu saja, saya berbicara terutama untuk diri saya sendiri di sini -- adalah persahabatan. Kami membutuhkan teman-teman yang mengerti, yang datang mendampingi, yang menawarkan tangan atau pelukan. Bukan pemecah masalah atau analis, bukan calon terapis yang menguji teori pop-psychobabble terbaru mereka, bukan teologi basi -- dan tentu saja bukan mereka yang bimbang rohani sehingga mereka pun membutuhkan orang percaya lain, dan terutama para pendeta, untuk selalu "didampingi" secara rohani dan kuat.

Tetapi yang menakjubkan adalah bahwa orang-orang ini ada. Mereka ada dalam buku-buku, dan saya menemukan "persahabatan" dalam penyair dan penulis lama, baik Kristen dan non-Kristen. Saya menemukan persahabatan dengan sesama penderita dan non-penderita, karena alasan sederhana bahwa mereka telah berkorban mengambil langkah untuk mendengarkan dan menemani (bahkan dalam menghadapi ketidakpahaman mereka sendiri). Dan, saya menemukannya dalam Kitab Suci: khususnya Musa, Elia, Raja Daud, pemazmur lainnya, Yeremia, rasul Paulus, dan bahkan Tuhan Yesus sendiri. Kita benar-benar tidak sendirian. Kita jangan seperti Elia yang, dalam lubang kelelahannya, merasa bahwa hanya dia yang tersisa (1 Raja-raja 19:10).

Berkat teknologi, dimungkinkan, lebih dari sebelumnya, untuk secara fisik berjauhan dalam keanehan musim karantina tanpa menjadi jauh secara sosial. Akan tetapi, syukur kepada Allah kita yang murah hati, kita dapat mengetahui bahwa di dalam Kristus kita tidak dan tidak akan pernah jauh secara rohani. Tuhan Yesus adalah sahabat terhebat karena Dia benar-benar lebih dekat daripada yang dapat dilakukan saudara mana pun (Amsal 18:24).

(t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
URL : https://www.desiringgod.org/articles/youre-not-alone-in-the-cave
Judul asli artikel : You're Not Alone in the Cave
Penulis artikel : Mark Meynell