Bagaimana seharusnya kita berpikir tentang menyelesaikan sesuatu dalam masa karantina dan wabah? Ini adalah pertanyaan yang sulit, karena masa jarak sosial ini berdampak pada semua orang. Memang, itu mengacaukan hidup kita dengan cara yang sangat berbeda.

Haruskah kita peduli untuk menjadi produktif di saat seperti ini? Beberapa orang akan mengatakan tidak. Saya katakan, ya. Akan tetapi, itu tergantung pada apa yang Anda maksud dengan produktif.

Inilah alasan saya dan lima prinsip panduan untuk membantu kita menjadi pelayan yang lebih baik pada saat ini.

1. Pada dasarnya, produktivitas adalah tentang kesetiaan.

Selama ini, produktivitas sering didefinisikan dengan "menyelesaikan sesuatu." Namun, itu hanya sebagian dari cerita. Jika CEO sebuah perusahaan menghabiskan waktu berbulan-bulan menyortir surat lebih cepat daripada siapa pun di perusahaan tempatnya bekerja, ia tidak akan dapat mempertahankan pekerjaannya pada rapat pemegang saham yang berikutnya, dan memang sepantasnya demikian. Itulah mengapa "menyelesaikan sesuatu" tidak berarti apapun, kecuali seseorang menyelesaikan pekerjaan yang benar dengan baik.

Gagasan ini beresonansi secara mendalam dengan visi realitas Kristen yang memandang kehidupan orang Kristen sebagai panggilan untuk setia dalam bidang misi apa pun yang telah Allah tetapkan untuk menjadi bagiannya. Kita terpanggil untuk menyibukkan diri dengan tugas yang telah Allah berikan, dan berusaha efektif di dalamnya. Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita harus selalu bertanya, "Bagaimana agar saya dapat setia pada saat ini?"

2. Musim yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Dunia kita sekarang ini adalah tempat yang berbeda dari dunia pada beberapa bulan yang lalu. Pekerjaan Anda mungkin sama, tetapi itu bukan berarti Anda bisa — atau harus — mencoba menyelesaikannya dengan cara yang sama persis. Pada titik ini, kita akan sangat mudah untuk mengalami frustasi.

Anda mungkin mencoba mempertahankan rutinitas normal Anda, dan menyadari bahwa ternyata hal itu tidak berhasil. Jangan lakukan itu. Atau, mungkin Anda merasa bersalah karena harus "menyelinap" untuk membantu anak-anak belajar tentang pembagian panjang selama "jam kerja." Jangan merasa bersalah tentang itu.

Inilah kenyataannya: orang yang produktif belajar beradaptasi. Dan, kita semua harus beradaptasi sekarang.

Dalam kasus saya, saya mengawali dan mengakhiri hari kerja saya lebih lambat dari biasanya supaya saya dapat membantu anak-anak kami yang kecil pada pagi hari dan menghabiskan waktu bersama istri saya sebelum kami berdua kelelahan. Itu bukan seperti yang biasa saya lakukan. Akan tetapi, kenyamanan bukanlah tujuannya. Pengaturan Anda mungkin memerlukan sesuatu yang sama sekali berbeda. Intinya, jadilah proaktif dan tanyakan pada diri sendiri perubahan apa yang perlu Anda lakukan.

3. Prioritaskan apa yang paling penting.

Ada pepatah dalam politik: jangan pernah menyia-nyiakan krisis. Jujur, pepatah itu terdengar tidak berperasaan, tetapi di balik pernyataan itu ada kenyataan bahwa krisis dengan skala apa pun akan mengganggu hidup kita dan memaksa kita untuk mengkalibrasi ulang dan fokus pada hal-hal yang paling penting. Arahkan diri Anda pada fokus itu. Berikut ini adalah beberapa cara untuk melakukannya:

- Pikirkan tentang bidang tanggung jawab yang Allah percayakan kepada Anda secara umum — pekerjaan, keluarga, gereja;

- Pertimbangkan apa yang unik pada saat ini — mungkin lebih banyak waktu di rumah, atau sendirian, atau dengan keluarga; lalu

- Tanyakan, Jika saya hanya mencapai tiga hal selama tiga bulan ke depan, apa yang harus dilakukan?

- Setelah Anda memiliki beberapa jawaban, luangkan waktu untuk prioritas tersebut, dan jangan takut untuk memangkas beberapa hal.

Mungkin ini adalah sebuah masa untuk sedikit melambat. Mungkin Anda memiliki peluang unik untuk mengenal tetangga dalam komunitas Anda. Kemungkinan besar, Anda tidak akan pernah memiliki waktu terkonsentrasi yang sama bersama anak-anak Anda seperti yang Anda lakukan sekarang. Apa pun bentuk kehidupan Anda saat ini, periksalah apa yang paling penting dan manfaatkan peluang unik apa pun yang Anda miliki saat ini.

4. Kembangkan strategi.

Setelah Anda menentukan apa yang paling penting, ambillah langkah-langkah yang dibutuhkan guna memberi diri Anda peluang terbaik untuk sukses. Saya biasanya berpikir dalam dua kategori:

Menyerang (Bagaimana saya meluangkan waktu untuk hal yang paling penting?)

Bertahan (Bagaimana saya menjaga diri agar tidak kewalahan?)

Mengenai strategi menyerang, saya benar-benar menjadwalkan waktu di kalender saya untuk fokus pada prioritas saya seolah-olah hal itu adalah rapat yang penting — bahkan jika hal itu adalah "5:00-6:00 sore: Pelajaran Sepeda dan Jalan-Jalan bersama Keluarga." Saya menemukan bahwa yang penting tidak selalu terasa mendesak; dan jika saya tidak meluangkan waktu untuk apa yang saya tentukan paling penting, saya akan dikalahkan oleh apa yang terasa paling mendesak.

Mengenai bertahan, ritme yang teratur membantu untuk memberikan stabilitas dan ketenangan bagi keluarga kami, terutama pada masa karantina. Saya mencoba membuat irama makro yang sama dari hari ke hari: 8:30 – 10:30 pagi fokus pada anak-anak (sekolah); 1:30-3:30 siang fokus pada orang lain (rapat); 5:30 7:30 malam fokus pada diri sendiri (membaca, berolahraga).

Kedua hal itu memungkinkan saya cukup memiliki struktur untuk berfokus dan memiliki kebebasan untuk mengetahui bahwa kami memiliki waktu untuk hal-hal yang tidak terduga. Namun, kami juga berusaha mempertahankan beberapa kebiasaan yang kami miliki sebelum masa pandemi; makan malam pada jam yang sama, menonton film bersama pada hari yang sama, dan melakukan aktivitas menyenangkan pada hari yang sama setiap minggunya untuk menghindari kekacauan yang berasal dari kehidupan karantina.

5. Rawatlah jiwa Anda.

Dalam masa-masa yang luar biasa, anugerah Tuhan adalah sesuatu yang sangat vital. Lebih dari sebelumnya, pastikan Anda menghabiskan waktu bersama Allah dalam pembacaan Kitab Suci dan doa. Aktiflah terlibat dengan gereja Anda secara virtual sejauh yang Anda bisa. Kita saling membutuhkan pada saat-saat terbaik — terlebih lagi pada saat-saat seperti ini.

Selain itu, jangan abaikan kebutuhan tubuh Anda. Tetaplah aktif. Berjalan-jalan. Membaca. Berbincang-bincang. Mainkan permainan papan (permainan yang menggunakan papan, mis. catur, otelo, dsb.- Red.). Nikmati waktu luang yang berarti serta perhatikan apa yang membantu Anda, dan apa yang membuat Anda stres. Khusus tentang media sosial, waspadai apa yang Anda konsumsi. Dalam banyak hal, Anda tidak memerlukan pembaruan dari Twitter dari menit ke menit tentang tingkat kematian kecuali Anda seorang ahli epidemiologi atau pejabat kesehatan masyarakat. Pertimbangkan bentuk-bentuk berita yang "lebih lambat" seperti koran. Jika hal-hal itu penting, Anda akan mendengarnya. Sementara itu, jaga diri Anda.

Menerima Batas-Batas Anda

Penulis Wendell Berry berpendapat bahwa pertanyaan yang paling mendasar adalah apakah Anda melihat diri Anda sebagai makhluk atau sebagai mesin. Dalam pandemi, kefanaan kita menjadi jelas dan hadir secara unik. Namun demikian, kita mungkin masih menghadapi godaan untuk memaksakan diri dalam saat-saat seperti ini, seolah-olah kita adalah mesin.

Akan tetapi, kita bukan mesin. Kita adalah makhluk, yang membutuhkan istirahat dan pembaruan secara teratur. Pada saat seperti ini, tujuan akhirnya bukanlah pencapaian, tetapi kesetiaan. Pada akhirnya, menjadi produktif bukanlah tentang mengoptimalkan setiap detik yang kita miliki, seolah-olah kita ini mesin, tetapi tentang menghasilkan sesuatu yang berarti. Sebagai orang Kristen, mari kita berjuang menuju kesetiaan yang alkitabiah dan sukacita Injil. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: