Hah)

Di ranjang Ravi yang tampak seperti kematian di Delhi, India, seorang pria berjalan ke kamar rumah sakitnya dengan Perjanjian Baru Gideon berwarna merah. Pada usia tujuh belas tahun, Ravi muda telah meminum ramuan racun yang dicampur dengan air dan bahan kimia. Tumbuh dalam budaya kehormatan dan rasa malu, kehidupan Ravi yang tidak disiplin membawanya ke tempat yang sangat gelap.

Ibunya meminta pria itu untuk meninggalkan ruangan. Sambil memegang Perjanjian Baru, pria itu berkata, "Putramu membutuhkan ini lebih dari apa pun." Ibunya mengizinkannya, lalu pria itu membuka Yohanes pasal 14. Melalui kabut skeptisisme, rasa malu, dan rasa sakitnya, Ravi berusaha mendengarkan ketika Alkitab dibacakan dengan lantang. Kemudian sesuatu terjadi.

"Itu seperti sambaran petir pada saat gelap gulita," Ravi Zacharias kemudian mengatakan tentang saat Roh Kudus menembus hati dan pikirannya dengan janji yang penuh harapan akan Firman Allah yang diilhami. "'Sebab Aku hidup, kamu pun akan hidup," adalah tujuh kata yang membuka hati saya yang keras."

Dia menyadari bahwa apa yang dimaksud dengan "hidup" dalam Yohanes 14:19 bukanlah tentang kehidupannya. Dalam sekejap, dia menginginkan kehidupan baru ini melebihi apa pun di dunia.

Ravi dengan rendah hati dan jujur berdoa, "Ya Tuhan, jika Engkau seperti yang Kaukatakan ada di sini, saya menginginkan kehidupan yang tidak saya miliki. Jika ini adalah kehidupan yang Engkau berikan kepada saya, saya akan berjanji, jika Engkau membawa saya keluar dari tempat tidur rumah sakit ini, saya akan berusaha melakukan semua yang terbaik dalam pengejaran kebenaran."

Allah mendengar doa Ravi hari itu dan hidupnya selamanya berubah. Dia selamat dari upaya bunuh dirinya dan hidup sampai usia 74 ketika, pada 19 Mei, dia meninggal setelah berjuang sebentar melawan kanker.

Menurut Ravi, ia tumbuh sebagai orang Kristen nominal atau kultural dalam masyarakat agama Hindu, Budha, Muslim, dan Sikh. Dia suka menonton bioskop setiap hari Sabtu dan bermain olahraga. Cricket adalah favoritnya dan dia bermimpi suatu hari akan bermain untuk tim nasional India.

Pada usia 17, ketika berjuang untuk menghilangkan ketidakseriusan pada masa remajanya saat berhadapan dengan masa dewasanya yang menjelang, Ravi muda menjadi depresi. India adalah masyarakat yang sangat hierarkis dan semangat persaingan dalam budaya berbasis kasta ini sangat kuat. Ravi menyadari bahwa keterampilan kriketnya bukan keahlian seorang juara. Catatan akademisnya kurang dan tidak serius. Ayahnya mendorongnya dengan keras untuk membuat keputusan penting tentang masa depannya.

Rasa malu mendorong sebagian orang menuju kesuksesan yang lebih besar, tetapi hal itu menguras setiap ons harapan di hati orang lain. Ravi punya teman dekat yang mengguyur tubuhnya sendiri dengan minyak tanah dan membakar dirinya agar terhindar dari penderitaan karena rasa malu. Dan, Ravi memilih racun.

Setelah tinggal di rumah sakit, Allah membuat hidup Ravi Zacharias menyala dengan hasrat untuk mengajarkan perkataan Kristus sambil berbicara kepada kaum skeptis sekulerisme yang kasar dan bermusuhan. Dia menjadi orang yang terbiasa dengan forum perbincangan dalam dunia pendidikan dan politik dengan menggunakan kecerdasan seorang filsuf besar dan hati seorang penginjil untuk menantang pandangan dunia yang berlaku dan perspektif duniawi.

Ravi membuat setiap hadirin merasa terusik dengan pemikiran bahwa semua yang kita lakukan di "sini dan saat ini" memiliki makna abadi karena akan ada penghakiman yang akan datang di hadapan Allah yang kudus.

Ketika ibu Ravi meninggal, ayahnya bertanya kepadanya apa yang ingin ia tuliskan di atas batu ibunya. Ravi segera tahu jawaban untuk pertanyaan itu. Kata-kata tentang anugerah ini, "Sebab Aku hidup, kamu pun akan hidup," dipahat ke dalam granit.

Bertahun-tahun kemudian, Ravi mengunjungi kuburan khusus lainnya. Dia dan istrinya Margie sedang bepergian di India dan memutuskan untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir neneknya. Dengan bantuan seorang tukang kebun, mereka berjalan melalui kuburan tua yang penuh dengan rumput liar dan puing-puing, akhirnya menemukan sebuah batu yang menandai kuburannya. Ketika tukang kebun membersihkan tanah dan lumpur yang puluhan tahun telah menempel di batu, pasangan itu memandang dengan terpana. "Lihatlah ayat itu!" Margie berseru.

Ravi dan Margie membaca kata-kata ini, "Sebab Aku hidup, kamu pun akan hidup." Yohanes 14:19 telah menyentuh tiga generasi keluarga ini.

Di tengah pandemi global akankah Anda membiarkan kebenaran ayat ini menembus hati dan kehidupan Anda? Jika Anda mengalami keputusasaan yang mengarah ke depresi, apakah Anda akan memandang Juru Selamat yang hidup, Tuhan Yesus Kristus? Dia hidup! Sebab Dia hidup, Anda bisa menghadapi hari esok. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Real Clear Religion.org
URL : https://www.realclearreligion.org/articles/2020/05/28/because_christ_lives_ravi_zacharias_also_lives_494403.html
Judul asli artikel : Because Christ Lives, Ravi Zacharias Also Lives
Penulis artikel : Ron F. Hale